Benarkah Tidurnya Orang Puasa Ibadah ?

    Author: Sidiq Nurhidayat Genre: »
    Rating

    Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia, bulan dimana Al-Qur'an diturunkan, bulan yang paling utama dibandingkan bulan-bulan yang lainnya, bulan yang penuh berkah dimana Allah memberikan naungan-Nya, menurunkan rahmat-Nya, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a hamba-Nya. Di bulan Ramadhan Allah akan melipat gandakan pahala amal ibadah kita, sugguh... sangat disayangkan apabila kesempatan ini tidak kita manfa'atkan dengan baik, tidak menghiasinya dengan amal-amal ibadah yang akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda. sungguh merugi... jika kita hanya menghiasinya dengan tidur panjang, dengan berdalil pada hadits :

    نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

    “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.”

    Mari kita periksa derajat Hadits diatas :

    Perowi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.

    Dalam riwayat lain, perowinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dho’if (lemah).

    Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.

    Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Asy-Syu’ab Al-Iman. Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah).

    Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif teteapi sudah sampai derajat hadits maudhu’ (palsu).

    Hadits Palsu

    Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan bahwa ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi.Karena di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi, yang kedudukannya adalah pemalsu hadits.

    Hal senada disampaikan oleh Al-Iraqi, yaitu bahwa Sulaiman bin Amr ini termasuk ke dalam daftar para pendusta, di mana pekerjaannya adalah pemalsu hadits.

    Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.

    Bahkan lebih keras lagi adalah ungkapan Yahya bin Ma’in, beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, tetapi beliau menambahkan bahwa Sulaiman ini adalah “manusia paling

    pendusta di muka bumi ini!

    Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh kita yang satu ini. Belaiu mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.

    Saking tercelanya perawi hadits ini, sampai-sampai Yazid bin Harun mengatakan bahwa siapapun tidak halal meriwayatkan hadtis dari Sualiman bin Amr.

    Iman Ibnu Hibban juga ikut mengomentari, “Sulaiman bin AmrAn-Nakha’i adalah orang Baghdad yang secara lahiriyah merupakan orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits. Keterangan ini bisa kita dapat di dalam kitab Al-Majruhin minal muhadditsin wadhdhu’afa wal-matrukin. Juga bisa kita dapati di dalam kitab Mizanul I’tidal.

    Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap, maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.

    Oleh karena itu, tindakan sebagian saudara kita untuk banyak-banyak tidur di tengah hari bulan Ramadhan dengan alasan bahwa tidur itu ibadah, jelas-jelas tidak ada dasarnya. Apalagi mengingat Rasulullah SAW pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.

    Kalau pun ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah SAW hanya sejenak memejamkan mata. Dan yang namanya sejenak, paling-paling hanya sekitar 5 sampai 10 menit saja. Tidak berjam-jam sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.

    Setelah mengetahui derajat Hadits di atas, maka wajib bagi setiap muslim terutama para khatib untuk tidak menisbatkan hadits ini kepada Rasulullah saw, dan selalu teliti terhadap setiap hadits karena ribuan Hadits palsu telah beredar di tengah-tengah umat islam,bayangkan jika seorang zindiq saja telah memalsukan sebanyak 4000 hadits, lalu berapa ribu hadits yang telah beredar di tengah-tengah umat ini?. Hamd bin Zaid berkata bahwa kaum zindiq memalsukan hadits sebanyak 4.000 hadits. Ini berdasarkan hitungan yang dia ketahui, dan pemeriksaan (ujian) yang dia lakukan untuk membongkar kedustaan mereka, kalau tidak maka para ulama ahli hadits menukil bahwa satu orang zindiq saja memalsukan hadits sebanyak itu, mereka berkata:"Ketika Ibnu al-Awjaa' ditangkap dan hendak dibunuh, dia berkata:' Aku membuat hadits palsu di tengah-tengah kalian sebanyak 4.000 hadits aku haramkan di dalamnya sesuatu yang halal, dan aku halalkan sesuatu yang haram.'"

    Rasulullah saw bersabda :

    “Cukuplah seseorang disebut pendusta, jika ia menceritakan segala hal yang ia dengar.” (HR. Muslim)

    “Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Mari kita manfaatkan bulan suci yang mulia dengan sebaik-baiknya, hiasi malamnya dengan qiyamul-lail dan tilawatul Qur'an, dan kita penuhi hari-harinya dengan ibadah wajib maupun sunnah, karena boleh jadi ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita. wallahu A'lam.


    Silsilah Adh-Dhaifah no. 4696. Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Bani
    http://answering.wordpress.com/2011/08/01/benarkah-tidurnya-orang-berpuasa-adalah-ibadah/
    http://www.alsofwah.or.id/cetakhadits.php?id=254


    Leave a Reply

    Posting Terbaru




    Ingin langganan artikel gratis via email? masukan alamat email anda di sini:

    Delivered by FeedBurner

    Page Rank

    Visited Today

    Total Pageviews

    Alexa