Antara Bersedih, Menangis dan Meratap

    Author: Sidiq Nurhidayat Genre: »
    Rating


    Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang Hanif{Islam}. (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui {Qs.Ar-Rum:30}

    Kembali untuk ke sekian kalinya kami membawakan Ayat yang mulia ini, karena memang pembahasan kali ini sangat berhubungan erat dengan ayat tersebut.

    Allah swt telah menetapkan agama Islam sebagai fitrah bagi setiap manusia, yang Allah telah ciptakan manusia berdasarkan agama yang fitrah tersebut, dan karena itulah agama islam berjalan sesuai dengan fitrah yang ada pada manusia.

    Bersedih adalah fitrah Manusia, tidak mungkin manusia bisa melawan fitrah tersebut, Nabi kita yang mulia Rasulullah saw pun tidak sanggup melawan fitrah yang Allah tetapkan tersebut, Beliau bersedih ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya, beliau bersedih ketika paman yang dicintainya (Abu Thalib) meninggal dunia,da beliau pun bersedih ketika istri yang sangat dicintainya (Kahidijah) wafat mendahuluinya .

    Beliau pun menangis bukan hanya sekali atau dua kali, bahkan beliau sering menangis, ketika beliau menghidupkan malam untuk melaksanakan sholat tahajud beliau menangis, bukan hanya itu beliau juga menangis ketika anaknya yang bernama ibrahim meninggal, sehingga para sahabat bertanya dan beliaupun menjelaskan :"Air mata mengalir dan hati bersedih, tapi kami tidak mengatakan selain yang diridhoi Tuhan kami, dan wahai Ibrahim, sungguh kami bersedih". Bahkan beliau juga pernah menangis ketika melihat putrinya yang sangat ia cintai sedang bekerja keras menumbuk gandum dengan batu besar untuk makan keluarganya. Fatimah bunga surga itu juga mengenakan pakaian dari kulit unta yang begitu sederhana. Rasulullah saw pun bersedih dan menangis. Sang ayah yang penuh cinta itu berucap singkat dalam tangisnya : " Wahai Fatimah, engkau mendapati pahitnya dunia untuk sebuah kenikmatan yang abadi ". Ini adalah tangisan rahmat dan kasih sayang seorang Ayah kepada anaknya, tidak ada yang menyangkal karena ini fitrah manusia yang mulia.

    Dikisahkan dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa suatu ketika Rasulullah saw sedang melewati seorang perempuan yang sedang menangis dekat kuburan anaknya. Lalu nabi bersabda: “bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah!” ......... Itulah yang beliau katakan, dan beliau tidak menyuruhnya untuk berhenti menangis, karena menangis tidak dilarang dalam Islam dan syariat membolehkannya.Allah berfirman,

    Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis (QS. An-Najm:43)

    Menangis adalah anugerah yang diberikan Sang Pencipta kepada makhluknya, akan tetapi sebagian besar manusia tidak menyadari akan anugerah ini, Dengan menangis kita akan merasa lega setelahnya, beban yang terasa berat akan sedikit berkurang setelah menangis karena air mata yang dihasilkan dari menangis mengandung 24 persen protein Albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh, cairan air mata yang keluar dapat membersihkan mata dan mencegah dehidrasi pada membran mata, di dalam air mata terdapat cairan lisozom yang dapat membunuh bakteri, tidak hanya itu, seorang ahlli biokimia William Frey telah melakukan beberapa studi tentang air mata dan menemukan bahwa air mata yang keluar dari hasil emosional ternyata mengandung racun, hal ini membuktikan bahwa air mata hasil dari menangis membantu dalam membuang racun dalam tubuh.

    Apa pendapat anda dengan orang yang berlebihan terhadap agama, ada sebagian orang yang justru berbahagia ketika musibah datang, ketika ia pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk beribadah, atau dalam rangka menuntut ilmu tanpa meninggalkan nafkah, dan ketika ia pulang dan menjumpai istrinya telah meninggal ia justru bergembira kemudian dia berkata,"Al-hamdulillah... ia telah syahid", dan masih banyak kisah yang semisalnya, dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziah dalam kitabnya Talbis Iblis bahwa ini adalah sikap yang tidak benar dan ini adalah salah satu perangkap dari banyaknya perangkap Iblis. Siapakah yang mereka contoh ? bukankah Al-Qur'an telah menjelaskan bahwa di dalam diri Rasulullah saw terdapat suri tauladan yang baik. Mereka mencoba melawan fitrah yang telah Allah tetapkan kepada setiap manusia, apakah mereka berfikir bahwa mereka lebih mulia dari Rasulullah saw?.

    Yang dilarang dalam Islam adalah meratap, meratap adalah kesedihan yang berlebihan seperti berteriak, menjerit menjambak jambak rambut, merobek-robek baju dan lain- lain. ada banyak hadits menerangkan mengenai dilarangnya meratapi orang yang meninggal dunia. Hadits yang bersumber dari Abu Malik al-Asyari menerangkan, ada empat perilaku umat Muhammad yang merupakan perilaku jahiliyah. Keempat perilaku itu adalah berbangga dengan keturunan, mencela keturunan orang lain, meminta hujan pada ahli nujum, dan meratap. Sementara itu, Ummu Athiyah menginformasikan bahwa Rasul meminta umatnya berjanji agar tak meratapi orang yang meninggal dunia. Termasuk juga dalam kategori meratap adalah acara selamatan kematian berdasarkan hadits berikut :

    Dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii, “Kami (yakni para Shahabat semuanya) memandang / menganggap (yakni menurut madzhab kami para Shahabat) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.”

    Telah kita ketahui bersama suatu kaidah,"Islam adalah agama yang fitrah", berdasarkan surat Ar-Rum ayat 30 di atas.Maka tidak ada satupun syari'at Islam ini yang bertentangan dengan fitrah manusia, saya akan sedikit memberikan pembahasan singkat mengenai acara selamatan kematian melalui sebuah pertanyaan,"apakah acara selamatan kematian sesuai dengan fitrah manusia?".

    Apa yang disyariatkan ketika kita merayakan hari kemenangan ?. "Bertakbir", Itulah yang disyari'atkan karena orang yang senang identik dengan mengeluarkan suara, itulah fitrah manusia. Lalu bagaimana dengan hari raya yang diwajibkan untuk diam dan tidak boleh mengeluarkan suara apapun? ini bertentangan dengan fitrah manusia.

    Kemudian Apa lagi yang disyari'atkan ketika hari raya?. "Kita disyari'atkan untuk makan".
    Apa yang disyari'atkan ketika hari pernikahan?.Kita disyari'atkan untuk mengadakan acara makan-makan"
    Apa yang disyari'atkan ketika Aqiqah?Kita juga disyari'atkan untuk mengadakan acara makan-makan"
    itu semua karena senang identik dengan makan dan itulah fitah manusia.

    Lalu bagaimana jika anak kita atau orang tua kita meninggal ? Apakah kita akan makan-makan juga dengan mengadakan acara selamatan kematian? selain tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan generasi yang baik sesudahnya hal itu jelas sangat bertentangan dengan fitrah manusia, karena orang yang sedang ditimpa musibah seharusnya dibantu dan bukan direpotkan, dan sedih tidak identik dengan makan makan, bahkan orang yang sedih biasanya tidak berselera untuk makan, itulah fitrah manusia

    Justru yang disyari'atkan oleh Rasulullah saw adalah Perbuatan yang mulia dan terpuji menurut SUNNAH NABI Shallallahu ‘alaihi wa Salam kaum kerabat /sanak famili dan para tetangga memberikan makanan untuk ahli mayit yang sekiranya dapat mengenyangkan mereka untuk mereka makan sehari semalam. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika Ja’far bin Abi Thalib wafat : ” Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka apa yang menyibukakan mereka ( yakni musibah kematian ).” (Hadits Shahih, riwayat Imam Asy Syafi’I ( I/317), Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad (I/205)


    By Kajian Islam dan Murottal

    One Response so far.

    1. sutrisno says:

      sop links nya udah saya pasang, trima kasih ya.

    Leave a Reply

    Posting Terbaru




    Ingin langganan artikel gratis via email? masukan alamat email anda di sini:

    Delivered by FeedBurner

    Page Rank

    Visited Today

    Brownies Kukus LaKhansa

    Total Pageviews

    Alexa