Doa Berbuka Puasa yang Sesuai Sunnah

    Author: Sidiq Nurhidayat Genre: »
    Rating

    Do'a berbuka yang benar dan sesuai dengan sunnah nabi adalah :

    ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
    “Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.”
    “telah hilang rasa haus dan telah basah kerongkongan dan telah tetap pahalanya Insya Allah”

    Do'a tersebut berasal dari Hadits Shahih :
    قال عمر : " كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : " ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله " .

    رواه أبو داود ( 2357 ) والدارقطني ( 25 ) ، وقال ابن حجر في " التلخيص الحبير " ( 2 / 202 ) : " قال الدارقطني : إسناده حسن " .

    Dari Umar radhiallahu anhu berkata: “dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka puasa mengucapkan:

    (Dzahaba dzoma’ wab tallatil ‘uruuq wa tsabatal ajru Insya Allah”

    Artinya: “telah hilang rasa haus dan telah basah kerongkongan dan telah tetap pahalanya Insya Allah”

    Diriwayatkan oleh : Abu Daud (2357) Ad-Daruquthni (25) Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya “At-Talkhis Al-Habir” (2/202): (Ad-Daruquthni berkata: sanadnya baik).

    Do'a tersebut dibaca setelah berbuka puasa dan bukan sebelum berbuka karena yang dimaksud dengan إذا أفطر adalah setelah makan atau minum yang menandakan bahwa orang yang berpuasa tersebut telah “membatalkan” puasanya (berbuka puasa, pen) pada waktunya (waktu berbuka, pen). Oleh karena itu doa ini tidak dibaca sebelum makan atau minum saat berbuka. Sebelum makan tetap membaca basmalah, ucapan “bismillah” sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

    “Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”. (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi mengatakan hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut shahih)

    Sedangkan Do'a dengan lafazh berikut :

    اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين
    Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa 'ala rizkika afthortu birohmatika yaa arhamar raahimiin

    adalah hadits palsu, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits. Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Entah siapa orang yang membuat doa ini.

    Memang ada hadits tentang doa berbuka puasa dengan lafazh yang mirip dengan doa tersebut, semisal:

    كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم

    “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim”

    Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga di-dhaif-kan oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Atau doa-doa yang lafazh-nya semisal hadits ini semuanya berkisar antara hadits dha'if atau munkar.

    Terdapat juga hadits dengan lafazh sebagai berikut :
    عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

    “Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya telah sampai riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu-ed’ (ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).”(Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, Kitab ash-Shaum, Bab al-Qaul ‘inda al-Ifthar, hadits no. 2358)

    Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, dan dinilai dhaif oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud.

    Penulis kitab Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla Ramadhan menuturkan, “(Hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (2/316, no. 358). Abu Daud berkata, ‘Musaddad telah menyebutkan kepada kami, Hasyim telah menyebutkan kepada kami dari Hushain, dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya dia menyampaikan, ‘Sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucapkan, ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.’”(Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla Ramadhan, hlm. 74-75)

    Mua’dz ini tidaklah dianggap sebagai perawi yang tsiqah, kecuali oleh Ibnu Hibban yang telah menyebutkan tentangnya di dalam Ats-Tsiqat dan dalam At-Tabi’in min Ar-Rawah, sebagaimana al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Tahdzib at-Tahdzib (8/224).(Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla Ramadhan, hlm. 74-75)

    Dan seperti kita tahu bersama bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh para ulama sebagai orang yang mutasahil, yaitu bermudah-mudahan dalam menshohihkan hadits.

    Keterangan lainnya menyebutkan bahwa Mu’adz adalah seorang tabi’in. Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sebab sanad yang terputus. Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho’if.(Lihat Irwaul Gholil, 4/38.)

    Hadits semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath Thobroni dari Anas bin Malik. Namun sanadnya terdapat perowi dho’if yaitu Daud bin Az Zibriqon, di adalah seorang perowi matruk (yang dituduh berdusta). Berarti dari riwayat ini juga dho’if. Syaikh Al Albani pun mengatakan riwayat ini dho’if.(Lihat Irwaul Gholil, 4/37-38.)
    Di antara ulama yang mendho’ifkan hadits semacam ini adalah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.(Lihat Zaadul Ma’ad, 2/45.).

    Hanya saja penulis tidak mengatakan bahwa orang yang berdo'a dengan lafazh dari hadits-hadits dho'if tersebut masuk ke dalam kategori orang yang mengamalkan bid'ah. sebab berdo'a dibolehkan walaupun dengan kata-kata sendiri sekalipun. Allah maha mengetahui dan memahami semua bahasa, maksud dan tujuan dari do'a setiap hambanya. Akan tetapi tidak boleh menyandarkan atau menisbatkan hadits dengan lafazh dho'if tersebut kepada Rasulullah saw karena hal itu sama dengan berdusta atas nama Rasulullah saw dan termasuk dosa besar.

    Setelah kita mengetahui penjelasan diatas tentang doa yang benar sesuai sunnah Nabi saw maka tinggalkan do'a yang tidak sesuai dengan sunnah Nabi saw dan laksanakanlah do'a yang sesuai dengan sunnah Nabi saw karena beliau telah bersabda " Sebenar benar perkataan adalah Al-Qur'an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah saw". Wallahu A'lam.


    Dari berbagai Sumber

    By Kajian Islam dan Murottal

    3 Responses so far.

    1. makasih pencerahanya gan, berarti do'a buka puasa kita selama ini gak tepat ya...
      jazakallah khair :)

    2. _vie_ says:

      cara ngasih tau teman yg beda aliran emang susah.. mereka berdalih ktanya doa yg allohuma lakasumtu itu kan udh ada dsemua tv, logikanya msa semua tv salah, kan di tv pasti dliat sama semua pemuka agama, tapi ko ga dibenrin... gmn caranya yah ngasih tau orang yg ga percaya sama hadist nabi, tapi mainnya logika aja..

    3. _vie_ says:

      Bagaimana cara memberitahu orang yg tidak peduli dengan hadist nabi?? dy beranggapan doa yg selama ini ada di tv benar, karna dy beranggapan secara logika masa semua yg ada di tv salah, kan di tv bnyk pemuka agama yg liat, knapa ga di betulin kalo salah.. bagaimana cara memberitahu nya???

    Leave a Reply

    Posting Terbaru




    Ingin langganan artikel gratis via email? masukan alamat email anda di sini:

    Delivered by FeedBurner

    Page Rank

    Visited Today

    Total Pageviews

    Alexa