Perjalanan yang Jauh

    Author: Sidiq Nurhidayat Genre: »
    Rating

    Nurah, saudara perempuanku nampak kurus dan pucat sekali. Tetapi seperti biasa dia masih membaca Al-Quranul-Karim.
    Jika ingin menemuinya pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan menengadahkan tangannya ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.
    Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak beranjak dari Video. Bahkan aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan aku suka meninggalkan shalat.
    Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku.
    Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka akupun segera menghampiri tempat tidur.
    Nurah memanggilku dari mushallanya.
    Dengan berat sekali aku menyeret kaki menghampirinya,
    “Ada apa Nurah?,” tanyaku.
    “Jangan tidur sebelum shalat shubuh!” ia mengingatkan. “Ah shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama”.
    Begitulah ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhirnya ia terbaring sakit. Ia tergelak lemah di tempat tidur.
    “Hanah!”,panggilnya lagi suatu ketika.
    Aku tak mampu menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.
    “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan.
    “Duduklah!”
    Aku menurut dan duduk di sisinya.
    Hening…..
    Sejenak kemudian<span class="hidenpost"> Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an denga suara yang merdu.
    “Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.”( Ali Imran: 185 )
    Diam sebentar lalu ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya pada kematian?”
    “Tentu saja percaya!”
    “Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan di hisab, baik yang besar maupun yang kecil?’
    “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!”
    “Ukhti,apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah….
    Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang.
    Aku menjawabnya penuh ketakutan. Suasan tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.
    “Aku takut dengan gelap, bagaimana engakau menakut-nakutiku lagi dengan kematian? Di mana aku akan tidur nanti?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak.
    Kucoba menenangkan diri. Aku berusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangakan,rekreasi.
    “oh ya, ku kira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?”, pancingku.
    “Tidak, karena barangkali tahun ini kau akan pergi jauh, ke tempat yang jauh…..mungkin…..umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia lalu terisak.
    Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan. sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para dokter sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua kepadanya? Atau ia memang sudah merasa sudah datang waktunya?...
    “Mengapa termenung? Apa yang engkau lamunkan?”’ Nurah membuyarkan lamunanku.
    “Apa engkau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak. Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat.
    Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi,40 tahun atau…..
    Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat:
    “Barang siapa dijauhkan dari Nerakadanj dimasukkan ke dalam surga maka sunguh ia telah beruntung”. (Ali Imran; 185 )
    “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya.
    Aku begegas meninggalkannya menuju kamar
    Nasihatnya masih terngiang-ngiang di gendang telingaku,” Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”
    Pagi hari…………
    Jam dinding menunjukan angka delapan pagi, Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun” pikirku.
    Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak, “ya Rabbi apa yang terjadi?“
    “Mungkin Nura……?”, firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit.
    Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggu Nurah yang sedang sakit.
    Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.
    Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang ia menelpon dari rumah sakit.” Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. Kata ibu tampak sekalli ayah begitu panic, nada suaranya berbeda dari biasanya.
    “Mana sopir…?” kami semua terburu-buru. Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam perjalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasa kunanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah.
    “Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menia-nyiakan waktunya. Ia begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian.
    Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ke ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding.
    Kami naik tangga escalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang peringatan: “Tidak boleh masusk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. Tak lama kemudian seorang perawat datang menemui kami. Perawat memberi tahu kalau kini kondisi Nurah membaik, setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.
    Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya telah habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif.
    Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya berbicara. Aku di beri waktu dua menit.
    “Assalamualaikum!, Bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya engan beberapa pertanyaan.
    “Alahamdulillah, sekarang aku baik-baik saja,”jawabannya dengan berusaha tersenyum.
    “Tetapi mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelisik.
    Aku duduk di pinggir dipan, Lalu kucoba mreraba betisnya, tapi ia segera menjauhkan dari jangkauanku. “Ma’af kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk.
    “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah ta’ala:
    “Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuahnmulah pada hari itu kamu dihalau”. ( Al-Qiyamah: 29-30 )
    Nurah melantunkan ayat social-Quran.
    Aku menguatkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tiodak menangis di haapan Nurah, aku membisu.
    “hanah, brdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupan akhirat….. Perjalanku amat jauh tapi bekalku amat sedikit sekali”.
    Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis, aku tak ingat lagi di mana aku sekarang. Aku terus menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu.
    Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia….
    Suasana begitu cepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku berbincang-bincang dengannya. Kini dia telah meninggalkan kami buat selama-lamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah……
    Suasana di rumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa membedkan lagi siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka percakapkan.
    Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan erakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.
    Kini, tak ada kata yang ku ingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya.
    “Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan)”. Aku benar-benar paham bahwa,
    “Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau”.
    Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya.
    Malam ini aku sendirian di mushalla almarhumah. Terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dan merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan….ya Allah!
    Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah di kuburnya, ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.
    Ya Allah, ini mushaf Nurah,…. Ini sajadahnya…..dan ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal menjadi kenangan manis pernikahannya.
    Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sis-sia. Aku menangis terus menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku.
    Aku mendoakan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering dan suka mendo’akanku.
    Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. ”Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?”
    Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi.
    Allahu Akbar, Allahu Akbar……
    Adzan fajar berkumandang. Tetapi, duhai alangkah indahnya suara panggilan itu kali ini.
    Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin itu, lalu segera kuhamparkan lipatan sejadah, selanjutnya aku shalat shubuh. Aku shalat seperti orang yang hendak berpisah selama-lamanya, shalat yang pernah kusaksikan dari saudari kembarku Nurah.
    Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore aku tidak menunggu waktu pagi.





    Dikutip dari buku: " Wahai Saudariku, Apa Yang Menghalangimu Untuk Berhijab? "
    Oleh: Abdul Hamid Al Bilali)

    Leave a Reply

    Posting Terbaru




    Ingin langganan artikel gratis via email? masukan alamat email anda di sini:

    Delivered by FeedBurner

    Page Rank

    Visited Today

    Brownies Kukus LaKhansa

    Total Pageviews

    Alexa